Jakarta – Saat ini pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik secara merata hingga ke seluruh pelosok Indonesia. Bukti keseriusan itu diwujudkan dengan dikeluarkannya Peraturan Presiden No. 79 Tahun 2017 tentang Rencana Kerja Pemerintah  yang menetapkan bahwa akselerasi inovasi dalam bidang tata kelola pemerintahan demi meningkatkan daya saing daerah sebagai Program Prioritas Nasional 2018.

Deputi Bidang Inovasi Administrasi Negara LAN Dr. Tri Widodo mengatakan, inovasi memiliki peran penting di era sekarang ini. Apabila dilakukan secara tepat, akselerasi inovasi akan mampu mendorong percepatan penerapan good governance hingga peningkatan kualitas pelayanan publik hingga ke daerah.

“LAN sebagai lembaga negara yang memiliki fungsi mengembangkan inovasi di bidang administrasi negara, telah mendorong bukan hanya pertumbuhan inovasi, tapi juga berusaha membentuk budaya inovasi melalui program Laboratorium Inovasi. Hasilnya, sejak 2014, terjadi lonjakan yang signifikan pada jumlah inovasi yang telah berhasil diciptakan. Periode 2014-2018 bisa dikatakan sebagai masa-masa keemasan inovasi,” kata Deputi Bidang Administrasi Negara LAN, Dr. Tri Widodo saat memberikan sambutan pada acara Seminar Nasional dengan judul “Akselerasi Inovasi Tata Kelola Pemerintahan dalam Meningkatkan Daya Saing Daerah” yang bertempat di Auditorium Prof. Dr. Agus Dwiyanto, MPA., Kantor LAN Veteran, Selasa (13/11).

Seminar ini menghadirkan sejumlah narasumber antara lain Drs. Riyadi, M.Si. (Kepala Pusat Inovasi Tata Pemerintahan LAN), Dr. Velix Vernando Wanggai, SIP, MPA (Direktur Aparatur Negara BAPPENAS), Dr. Agung Firman Sampurna, SE., M.Si. (Anggota BPK RI), Ir. H. Herwin Yatim, MM. (Bupati Kabupaten Banggai), dan Drs. Ec. Lambert Jitmau, MM (Walikota Sorong).

Tri Widodo memaparkan, Program Laboratorium Inovasi yang dimulai sejak tahun 2015 hingga saat ini, setidaknya telah menghasilkan 6.855 inovasi dengan sebaran pada 63 kabupaten/kota dan propinsi. Bila dirata-rata, maka untuk tiap kabupaten/kota mampu menghasilkan 109 inovasi.

Melalui program Laboratorium Inovasi ini, lanjut dia, LAN berusaha meningkatkan kapasitas daerah untuk berinovasi, memberikan pengalaman berinovasi, di samping mencoba menghasilkan produk inovasi.

“Maka bisa dikatakan bahwa tugas LAN adalah melakukan inkubasi inovasi guna memastikan ide-ide segar yang masih bertebaran dapat dilaksanakan secara sistematis untuk nantinya menghasilkan kemajuan dan perbaikan dalam pelayanan publik dan tata kelola pemerintahan,” jelasnya.

Meski demikian, Tri Widodo mengakui, masih terdapat kendala dalam menumbuh kembangkan dan meratakan budaya inovasi di daerah. Kendala itu antara lain terkait dengan dukungan kebijakan. Masih banyak kekhawatiran dari aparatur daerah untuk berinovasi karena takut inovasi itu akan berbenturan dengan peraturan.

“Mereka ragu untuk berinovasi karena khawatir inovasinya berbenturan dengan peraturan dan bisa membuat mereka berurusan dengan aparat hukum. Padahal dalam berinovasi, seharusnya jangan sampai dibayangi oleh perasaan takut,” ungkapnya.

Kendala lain yang menyebabkan kebiasaan inovasi belum merata sepenuhnya adalah belum adanya ekosistem inovasi di tiap daerah di Indonesia. Untuk mengatasi kendala ini, Tri Widodo menawarkan solusi dengan cara mengadakan upaya habituasi inovasi untuk membudayakan inovasi, dan memperkuat komitmen untuk mendukung inovasi.

“Karena inovasi dan ekosistem pendukungnya adalah dua hal yang berbeda. Di satu sisi kita harus mendorong akselerasi inovasi, tapi di sisi lain kita juga harus menyiapkan ekosistemnya,” pungkasnya. (ima/budiprayitno)